
Ya, Ali Sadikin wafat pada hari Selasa, 20 Mei 2008 pukul 17.30 WIB, seperti dilansir harian Kompas. Rakyat Jakarta akan banyak kehilangan sosok gubernur seperti Bang Ali. Mengingat perannya yang sangat besar dalam membangun kota Jakarta. Di tangannya Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, dan Museum Wayang berhasil dibangun.
Kontroversial yang diciptakannya adalah ketika mengatur perjudian dan prostitusi di Jakarta. Ketika itu pengaturan yang bernamakan lokalisasi mendasari definisi “legalisasi” akan bentuk maksiat. Namun dengan adanya pengaturan itu, Jakarta dapat meraup dari perjudian sejumlah Rp. 40 Miliar (empatpuluhmiliar pada era 70′an, kira-kira apabila dinominalkan dengan nilai rupiah sekarang itu berarti besar sekali – mencapai trilyunan?). Dan lokalisasi prostitusi di Kramat Tunggak menjadikannya mudah dikontrol.
Proyek Mohammad Husni Thamrin (MHT) yang menggagas perbaikan kampung dengan mengacu pada program Belanda tentang kampoengverbetering diBatavia tahun 1934, dicatat sebagai suatu keberhasilan. Bank Dunia mencatat “kesehatan masyarakat meningkat, tingkat pendidikan yang dicerminkan dari school enrollment naik pula, juga mobilitas penduduk yang selanjutnya berpengaruh pada peningkatan kegiatan perekonomian. Dengan telah diperbaikinya kampung-kampung itu, ternyata penduduk didorong untuk memperbaiki rumahnya dan ini artinya progam tersebut mempunyai multiplier effect terhadap perbaikan lingkungan secara umum. Dalam perhitungan cost and benefit yang dilakukan konsultan Bank Dunia, rasionya jauh melebihi satu”.
Nirwono Joga – Andai Pemprov DKI Jakarta menjalankan RTRK yang sudah dibuat Bang Ali, pembangunan kota Jakarta di segala bidang akan lebih tertata dibanding sekarang.
Pada saat itu Bang Ali juga telah mendesak agar konsep pembangunan kota Jakarta dengan daerah penyangga wilayah di Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Cianjur (Jabodetabekjur) segera direalisasikan. Hal ini agar perkembangan kota Jakarta yang bertambah padat dapat terdistribusi secara merata. Jabodetabekjur setara dengan program megapolitan saat ini, Bang Ali tokoh cerdas.
Seperti dilansir Kompas. Yayat Supriatna – seorang pengamat perkotaan – mengatakan bahwa rencana pembangunan Bang Ali sungguh-sungguh demi kesejahteraan warga kota, baik dari fisik maupun jiwanya. Ia mencontohkan banyaknya pembangunan mulai dari gelanggang olahraga, gedung kesenian, taman, rumah susun, dan perbaikan kampung kumuh lewat proyek MHT. Pembuatan ruang terbuka dengan penanaman pohon di pinggir jalan sampai Taman Impian Jaya Ancol pun terbentuk dari realisasi proyek MHT.
Saya jadi teringat masa lalu, ketika kerja praktek di Jakarta. Waktu itu di halaman gedung Departemen Agama di Kuningan, sedang istirahat saat mengukur luas kawasan pertambahan gedung yang akan dibangun. Arsitek senior yang membimbing saya mengatakan bahwa pada zaman Ali Sadikin dulu Monas harus terlihat dari setiap penjuru kota Jakarta. Namun semenjak Ali Sadikin turun, hal itu diabaikan. Memang benar dari halaman gedung Departemen Agama Monas tidak bisa dilihat, tertutup gedung-gedung tinggi yang liar terbangun. Kata Arsitek Senior saya “dulu dari sini Monas bisa terlihat”.
literature source : kompas, rabu 21 mei 2008
image source : www.sarwono.net – 2008