Archive for the 'tokoh' Category

Ardistia Dwiasri, namanya terkenal di New York

May 22, 2008

Malam sebelum posting ini ditulis, makan malam di restoran bernama ‘KONA’ di Sagan (ini rumah makan yang recommended loh) bersama teman-teman dari arsitektur UGM. Well, kemudian seorang teman membuka-buka majalah dan menemukan artikel yang mengulas seorang entrepreneur bernama Ardistia Dwiasri. Dengan mata terbelalak ku membaca kontennya.

Ardistia Dwiasri – seorang Indonesia yang bergelut di bidang fashion designer. yang kuingat setelah bekerja di fashion designer ternama, dia memulai semuanya dari enol. Dimulai dengan business plan, multiple research, lalu berjalan dengan menemukan berbagai bentrokan di sana-sini. Kini mempunyai 14 butik ternama berlabel Ardistia New York di seantero Amerika .keren. kalo tidak salah motonya ‘kalo bisa di New York, berarti bisa juga di seluruh dunia’ .gila.

Baca liputan NOVA online di sini: Ardistia Dwiasri, Menguasai Dunia Lewat Busana

Mantab sekali. Dia memulai pembelajarannya di New York dan berani membuka usaha di kota tersebut. Yang menarik perhatianku adalah kemampuannya untuk merubah self employeed titled person menjadi business titled person, bagaimana dia mengolah hobi dan kegemarannya akan fashion design menjadi bisnis yang luar biasa, hal ini tentulah tidak dapat disepelekan. Seharusnya sejak awal Ardistia sudah merencanakan semua ini. Jadi hal yang patut digaris bawahi dari keberhasilan usahanya adalah ketika dia mulai membuat business plan dan multiple research yang mana sangat membantu membentuk target yang harus dilakukan oleh suatu bisnis. Dengan kemauan tinggi dan pantang menyerahnya, dia berhasil meraih semuanya.

image source : http://www.tabloidnova.com – 2008

Selamat Jalan Bang Ali

May 21, 2008

Ya, Ali Sadikin wafat pada hari Selasa, 20 Mei 2008 pukul 17.30 WIB, seperti dilansir harian Kompas. Rakyat Jakarta akan banyak kehilangan sosok gubernur seperti Bang Ali. Mengingat perannya yang sangat besar dalam membangun kota Jakarta. Di tangannya Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, dan Museum Wayang berhasil dibangun.

Kontroversial yang diciptakannya adalah ketika mengatur perjudian dan prostitusi di Jakarta. Ketika itu pengaturan yang bernamakan lokalisasi mendasari definisi “legalisasi” akan bentuk maksiat. Namun dengan adanya pengaturan itu, Jakarta dapat meraup dari perjudian sejumlah Rp. 40 Miliar (empatpuluhmiliar pada era 70′an, kira-kira apabila dinominalkan dengan nilai rupiah sekarang itu berarti besar sekali – mencapai trilyunan?). Dan lokalisasi prostitusi di Kramat Tunggak menjadikannya mudah dikontrol.

Proyek Mohammad Husni Thamrin (MHT) yang menggagas perbaikan kampung dengan mengacu pada program Belanda tentang kampoengverbetering diBatavia tahun 1934, dicatat sebagai suatu keberhasilan. Bank Dunia mencatat “kesehatan masyarakat meningkat, tingkat pendidikan yang dicerminkan dari school enrollment naik pula, juga mobilitas penduduk yang selanjutnya berpengaruh pada peningkatan kegiatan perekonomian. Dengan telah diperbaikinya kampung-kampung itu, ternyata penduduk didorong untuk memperbaiki rumahnya dan ini artinya progam tersebut mempunyai multiplier effect terhadap perbaikan lingkungan secara umum. Dalam perhitungan cost and benefit yang dilakukan konsultan Bank Dunia, rasionya jauh melebihi satu”.

Nirwono Joga – Andai Pemprov DKI Jakarta menjalankan RTRK yang sudah dibuat Bang Ali, pembangunan kota Jakarta di segala bidang akan lebih tertata dibanding sekarang.

Pada saat itu Bang Ali juga telah mendesak agar konsep pembangunan kota Jakarta dengan daerah penyangga wilayah di Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Cianjur (Jabodetabekjur) segera direalisasikan. Hal ini agar perkembangan kota Jakarta yang bertambah padat dapat terdistribusi secara merata. Jabodetabekjur setara dengan program megapolitan saat ini, Bang Ali tokoh cerdas.

Seperti dilansir Kompas. Yayat Supriatna – seorang pengamat perkotaan – mengatakan bahwa rencana pembangunan Bang Ali sungguh-sungguh demi kesejahteraan warga kota, baik dari fisik maupun jiwanya. Ia mencontohkan banyaknya pembangunan mulai dari gelanggang olahraga, gedung kesenian, taman, rumah susun, dan perbaikan kampung kumuh lewat proyek MHT. Pembuatan ruang terbuka dengan penanaman pohon di pinggir jalan sampai Taman Impian Jaya Ancol pun terbentuk dari realisasi proyek MHT.

Saya jadi teringat masa lalu, ketika kerja praktek di Jakarta. Waktu itu di halaman gedung Departemen Agama di Kuningan, sedang istirahat saat mengukur luas kawasan pertambahan gedung yang akan dibangun. Arsitek senior yang membimbing saya mengatakan bahwa pada zaman Ali Sadikin dulu Monas harus terlihat dari setiap penjuru kota Jakarta. Namun semenjak Ali Sadikin turun, hal itu diabaikan. Memang benar dari halaman gedung Departemen Agama Monas tidak bisa dilihat, tertutup gedung-gedung tinggi yang liar terbangun. Kata Arsitek Senior saya “dulu dari sini Monas bisa terlihat”.

literature source : kompas, rabu 21 mei 2008
image source :
www.sarwono.net – 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.